expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

About

Showing posts with label film indonesia. Show all posts
Showing posts with label film indonesia. Show all posts

Wednesday, May 16, 2012

5 Film Indonesia yang Sukses mendunia

Fenomena perfilman Indonesia memang saat ini sedang menggairahkan, walaupun banyak film dengan genre dan ‘bumbu’ yang sama saling menyikut demi setali uang dan popularitas di pasaran film Indonesia. Namun akhir-akhir ini dunia perfilman Indonesia kembali dikejutkan dengan sebuah kebanggaan dan prestise secara internasional, ketika sebuah film bergenre laga/action berhasil meledak di pasaran internasional, The Raid, sebuah film yang juga menganggkat olahraga beladiri khas Indonesia. Untuk itu berikut uniknya.com merangkum 5 film karya anak bangsa yang sukses di kancah internasional: 

1.    The Raid

 Dunia perfilman Indonesia yang baru saja menghebohkan dunia lewat film the Raid, penayangan perdana di hollywood mendapat sambutan luar biasa dari insan perfilman, bahkan tidak hanya di amerika film tersebut mendapat apresiasi tinggi, di Kanada,Australia yang juga menjadi negara tempat penayangan perdana secara serempak selalu disesaki penonton.
Sebelum beredar di bioskop, ‘the Raid’ yang diproduksi tahun 2011 telah mendulang beragam penghargaan bergengsi di kancah perfilman internasional, seperti  Cadillacs People’s Choice Award,di Toronto international film festival 2011, dan the Best Film sekaligus Audience Award di Jameson Dublin International Film Festival 2012. ‘The Raid’ juga ikut serta dalam festival film Sundance 2012, dan menjadi salah satu karya yang paling disukai panitia Sundance.


2.    Pintu Terlarang


Gebrakan pada dunia film internasional dilakukan film Indonesia lainnya yakni, pintu terlarang. Sebenarnya film bergenre horor yang dibintangi aktor Fachri Albar ini kurang mendapat apresiasi di Indonesia. Namun film yang dirilis pada tahun 2009 tersebut cukup menerima penghargaan di internasional.
Bahkan ‘Pintu Terlarang’ terpilih dan diputar pada ajang Intenational Film Festival Rotterdam ke 38 pada 21 Januari hingga 1 februari 2009 silam, dan penghargaan cukup membanggakan diraih di Fantastic Film Festival. Dalam festival yang digelar di Korea Selatan 16 hingga 26 Juli tersebut, ‘Pintu Terlarang’ mendapat penghargaan Best of Puchon atau salah satu kategori film terbaik.

Selain Fachri Albar, film ini melibatkan artis ternama lainnya seperti Marsha Timothy, Ario Bayu, Tio Pakusadewo, dan Henidar Amroe, cerita film ini diadapasi dari novel berjudul sama, karya Sekar Ayu Asmara.

3.    Daun Di atas Bantal

 Film yang kurang diminati di negeri sendiri tapi mendapat apresiasi tinggi di luar negeri juga diterima film daun di atas bantal. Film karya sutradara Garin Nugroho yang diproduksi tahun 1998 ini sempat terhenti pembuatannya akibat krisis ekonomi yang melanda indonesia pada 1987 silam.
Film yang di produksi oleh Christine Hakim tersebut akhirnya diselesaikan di Australia. Film  yang mengisahkan seorang ibu dengan tiga anak jalanan itu selesai berkat adanya bantuan dari pihak ketiga, seperti Hubert Bals Fund, NHK, dan lainnya.

Walaupun penggarapannya sempat terhenti, namun film tersebut dianggap memiliki kualitas sebagai film festival secara penggarapan. Terbukti dengan beberapa penghargaan intenasional yang diraih daun di atas bantal.
Pada ajang asia Pacific Film Festival pada tahun 1998, ‘Daun di Atas Bantal’ dinobatkan sebagai film terbaik,dan Christine Hakim sebagai aktris terbaik. Menjadi unggulan dalam kategori Silver Screen Award Best Asian Feature film pada Singapore International Film Festival pada 1999. Sementara sutradara Garin Nugroho memperoleh Special Jury Prize pada Tokyo International Film festival 1998.

4.    Laskar Pelangi

 Film Indonesia lainnya yang mendapat banyak penghargaan internasional yakni Laskar Pelangi. Film yang diadopsi dari novel laris karya Andrea Hirata dengan judul yang sama juga menjadi salah satu film yang diputar pada festival film international fukuoka 2009 di Jepang.
film yang disutradarai Riri Riza itu juga diputar di barcelona asian film festival 2009 di spanyol,singapore international film festival 2009, 11th Udine Far East Film Festival di Italia, dan Los Angeles Asia Pacific Film Festival 2009 di Amerika Serikat.


Bahkan  studio film di negara seperti, Namibia, Spanyol, Italia, Hongkong, Singapura, Jerman, Amerika, Australia, dan Portugal beramai-ramai menayangkan film tentang mimpi 10 anak di desa terpencil dalam mengenyam pendidikan tersebut.
Setelah rilis pada tahun 2008, ‘Laskar Pelangi’ meraih penghargaan the Golden Butterfly Award untuk kategori film terbaik di International Festival of Film for Children dan Young Adults di Hamedan, Iran. Menjadi nominasi film terbaik di Berlin International Film Festival 2009, serta editor terbaik asian film 2009 di Hongkong.

5.    Pasir Berbisik

Film  Indonesia lainnya yang berhasil mencuri perhatian dunia yakni, ‘Pasir Berbisik’. Film yang disutradarai Nan Achnas ini mengambil latar keindangan Gunung Bromo. Selain ketajaman ide cerita, pesona keindahan alam Gunung Bromo membuat film ini memiliki daya tarik luar biasa.

Belum lagi akting dari aktris senior Christine Hakim dengan aktris muda kala itu, Dian Sastro Wardoyo, dinilai pengamat film di tanah air, membuat ‘Pasir Berbisik’ terasa lebih hidup dan enak dinikmati. Totalitas artis papan atas lainnya seperti, Didi Petet, Dik Doang, Slamet Raharjo, Mang Udel, dan Dessy Fitri memperlihatkan film Indonesia juga memiliki kelas tersendiri.
Setelah cukup mendapat perhatian dari insan film di tanah air, ‘Pasir Berbisik’ mampu meraih penghargaan internasional, seperti Best Cinematography Award, Best Sound Award, dan Jury’s Special Award for Most Promising Director untuk Festival Film Asia Pacifik 2001, artis wanita terbaik, Festival Film Asiatique Deauville 2002. Artis wanita terbaik pada Festival Film Antarbangsa Singapura ke-15.


sumber

Thursday, April 5, 2012

10 Film Indonesia yang Pantas Menjadi Video Game

Membicarakan kualitas film Indonesia, baik di layar perak maupun lebar, bukanlah sebuah topik yang bisa dibanggakan. Walaupun meningkat dari segi kuantitas dan memastikan roda perekenomian yang bergerak dari industri kreatif yang satu ini berputar dengan stabil, film-film Indonesia harus diakui masih belum mampu bersaing dari segi kualitas. Dari puluhan judul film yang hadir setiap tahunnya, hanya sedikit yang benar-benar mampu menghadirkan sebuah tontonan yang pantas diapresiasi dengan tinggi dan mengundang decak kagum. Selebihnya? Terjatuh pada konsep dangkal menjual nilai-nilai seksual tanpa menghadirkan kualitas cerita yang bahkan pantas untuk dinikmati.

Walaupun demikian, harapan positif untuk industri ini memang tetap ada. Perlahan namun pasti, para produsen mulai menemukan bentuk yang lebih baik untuk tidak hanya menghadirkan sebuah film yang memenuhi kebutuhan pasar, tetapi sebuah kualitas dengan nilai-nilai yang tinggi. Datang dari berbagai genre, film-film ini mampu membuktikan diri sebagai yang terbaik di kelasnya, bahkan beberapa datang dengan sensasi yang hampir mendekati sebuah film Hollywood. Satu yang pasti, mereka menawarkan begitu banyak keunikan yang membuatnya pantas untuk diadaptasikan menjadi sebuah karya kreatif lain, seperti video game misalnya.

Tentu saja tidak semua film Indonesia berkualitas memiliki kemampuan untuk diadapatasikan sebuah game. Judul-judul yang mengusung drama sebagai plot paling utama seperti “Ada Apa dengan Cinta” atau “Ayat-Ayat Cinta” tentu sulit menemukan bentuk yang tepat untuk diadaptasikan ke dalam sebuah video game. Drama memang menjadi salah satu elemen yang membuat sebuah cerita di dalam game menjadi kaya, tetapi ia tidak pernah menjadi kekuatan utama yang mendasari sebuah game dibuat, bahkan untuk game-game bergaya interactive story sekalipun. Sebuah game setidaknya harus mengandung elemen aksi, misteri, dan fantasi. Tanpa ketiga pilar ini, video game tak ubahnya selongsong peluru tanpa isi yang tidak akan mampu memberikan impact apapun bagi gamer yang memainkannya.

Jadi, dari semua film-film Indonesia, layar lebar maupun perak, yang sedang atau pernah tayang di Indonesia, film apa sajakah yang memiliki “kualitas” untuk dijadikan sebuah video game?

Quote:
10. Petualangan Sherina
Quote:
Film yang memang ditujukan untuk pasar anak-anak saat ini boleh dibilang terbilang langka. Di masa lalu, ketika dunia hiburan Indonesia masih dipenuhi dengan artis anak-anak yang berbakat dan anak-anak masih mendengarkan lagu yang memang ditujukan untuk umur mereka, film-film seperti ini laris manis. Salah satu yang terbaik? Tentu saja Petualangan Sherina yang fenomenal. Sebagai salah satu yang pertama di genrenya, Petualangan Sherina menawarkan semua hal yang dicintai oleh anak-anak, dari musik, tarian, hingga konsep petualangan besar yang mampu ditakhlukkan oleh seorang anak kecil. Lantas konsep game seperti apa yang bisa diusung di dalamnya? “Meniru” gaya game-game ala Dora The Explorer mungkin menjadi bentuk yang paling tepat. Menghadirkan elemen aksi yang minim, Petualangan Sherina dapat didesain sebagai sebuah game yang mengusung musik dan tarian yang disukai oleh anak-anak dan menjadikanya faktor untuk menemukan progress di dalam cerita.
Quote:
9. Wiro Sableng
Quote:
Tidak lengkap rasanya jika kita membicarakan film-film terbaik Indonesia, tanpa menyentuh film-film silat kebanggaan kita di masa lalu. Hampir tidak ada orang Indonesia yang tidak mengenal sosok pendekar yang satu ini. Setengah waras, berpakaian putih, dan bersenjatakan kapak yang sakti, Wiro Sableng memang menjadi sebuah legenda yang tidak tergantikan. Mengapa Wiro Sableng? Mengapa tidak karakter silat lain seperti Joko Tingkir? Karena, harus diakui, dari semua karakter silat fiksi yang ada, Wiro Sableng meupakan salah satu karakter dengan kepribadian yang paling unik dan kuat, sesuatu yang tentu saja akan berkontribusi besar pada pembawaan video game jika proses adaptasi dilakukan. Konsep yang pas? Bayangkan sebuah game hack and slash sederhana bertemakan Kerajaan-Kerajaan di masa lalu, dengan dialog dan komentar “nyeleneh” nan lucu dari mulut Wiro. Tentu saja akan menjadi sebuah game yang menarik.
Quote:
8. Gerhana
Quote:
Sebagian besar dari kita yang menghabiskan masa kanak-kanak dan remaja di akhir tahun 1990-an tentu pernah mendengar sinema elektronik yang satu ini – Gerhana. Berbeda dengan sinetron-sinetron Indonesia yang di kala itu lebih berfokus pada percintaan, Gerhana hadir sebagai sebuah film tokusatsu sederhana yang menceritakan tentang kehidupan manusia-manusia dengan kekuatan psychokinesis, sebagian dari mereka membela kebenaran sementara yang lain hidup dalam rimbah kejahatan. Mengadaptasikan film “unik” seperti ini tentu saja menghasilkan sebuah video game yang berkualitas. Game-game yang mengusung karakter utama yang memiliki kemampuan Psychokinesis boleh dibilang sebagai barang langka yang masih sulit ditemukan di industri game saat ini. Menghancurkan para musuh dengan hanya menggerakkan mata? That is what Gerhana is all about!
Quote:
7. Panji – Manusia Millenium
Quote:
Akhir tahun 1990-an memang menjadi masa-masa keemasan Tokusatsu ala Indonesia yang terbilang punah saat ini. Dari semua pahlawan bertopeng yang ditawarkan, Panji Manusia Millenium boleh disimpulkan sebagai yang terbaik saat itu. Mengusung kisah kepahlawanan ala para pahlawan Marvel yang menyembunyikan identitasnya ketika membela kebenaran, Panji si Manusia Millenium datang dengan desain karakter, cerita, dan visual effect yang terbilang cukup solid di kala itu. Mengadaptasikan film seperti ini tentu saja akan menghasilkan sebuah video game yang berkualitas. Konsep seperti apa yang harus diusung? Seperti tren yang sedang bekembang untuk mendefinisikan karakter superhero saat ini, konsep permainan ala Batman: Arkham City akan menjadi pilihan yang terbaik. Kompleks, tetapi sekaligus memberikan kesan cerita kepahlawanan yang lebih “manusiawi”.
Quote:
6. Jelangkung
Quote:
Dari semua film horror Indonesia yang ikut dalam kebangkitan industri film nasional, nama Jelangkung yang hadir dari tangan dingin Rizal Mantovani harus diakui merupakan salah satu yang terbaik di kala itu. Mengusung salah satu mitos urban yang sempat populer di masa lalu, Jelangkung datang menebar horror tanpa terperangkap untuk menyajikan hal-hal berbau seksual yang populer saat ini. Konsep seperti yang dapat diterapkan untuk Jelangkung ini? Para developer game Indonesia dapat menyulapnya menjadi sebuah game survival-horror ala Silent Hill pertama dan Siren. Ketakutan dimunculkan dari atmosfer penuh keheningan dan “makhluk-makhluk” mistis yang hanya muncul dalam sekelibat bayangan. Game nya harus memastikan agan lebih banyak berlari dan bersembunyi dengan resource yang sangat terbatas untuk berbalik melawan. 

5. Tutur Tinular
Quote:
Kolosal, pertempuran besar, politik, romansa, pengkhianatan, dan jurus-jurus silat memukau adalah hal yang membuat sandiwara Radio di akhir tahun 1980-an ini begitu populer di seluruh Indonesia. Nama besar Tutur Tinular yang kemudian diangkat menjadi film layar lebar dan beberapa adaptasi di layar perak ini memang sudah menjadi legenda yang tidak terpisahkan dari industri film Indonesia. Menghadirkan cerita dan hubungan karakter yang kompleks serta pertarungan dan intrik dalam skala masif, Tutur Tinular memang menyediakan semua bahan yang tepat untuk menghasilkan sebuah video game berkualitas. Game-game lokal seperti Nusantara Online memang sudah terhitung menyulapnya menjadi sebuah game MMORPG yang patut diacungi jempol, namun harus diakui ada begitu banyak adaptasi potensial lainnya yang bisa dilakukan. Contohnya? Bayangkan saja sebuah game ala Dynasty Warriors, dimana karakter pilihan agan dapat membantai ribuan prajurit di sebuah perang kolosal. Tutur Tinular dengan gaya Musou? Shut up and take my money!
Quote:
4. Si Buta dari Gua Hantu
Quote:
Wiro Sableng mungkin datang dengan kepribadian unik yang tidak tergantikan, namun jika kita membicarakan karakter fiksi silat yang popularitasnya yang tidak tertandingi? Maka nama “Si Buta dari Gua Hantu” adalah pilihan yang paling tepat. Sosok yang bisa dianggap sebagai “Chuck Norris”-nya cerita silat Indonesia ini memang dideskripsikan sebagai sosok pendekar yang tidak bercela jika berhadapan pada ketidakadilan di masyarakat. Di balik sosoknya yang buta dan kehadiran sahabat baiknya – sang lutung “Kliwon”, Si Buta adalah manifestasi dari sebuah sosok “superhero” Indonesia yang orisinil. Genre yang bisa diadapatasikan untuknya? Tentu saja hack and slash dengan elemen stylish ala Devil May Cry akan menjadi pilihan yang tepat. Membayangkan bisa mencicipi game seperti ini saja sudah cukup untuk membuat adrenalin sebagian besar dari kita melompat tinggi.
Quote:
3. Merantau
Quote:
Memperkenalkan sosok Iko Uwais untuk pertama kali, Merantau adalah film action modern Indonesia yang berusaha memperkenalkan kembali pencak silat sebagai olahraga bela diri asli dari Nusantara. Walaupun dibumbuhi dengan begitu banyak elemen drama, namun Merantau harus diakui merupakan kandidat yang tepat untuk menghasilkan sebuah game action fighting yang mumpuni. Tidak perlu mengambil porsi dari plot utama, developer dapat dengan bebas menciptakan sebuah side-story yang memungkinkan sang karakter utama untuk memainkan porsi yang lebih banyak dalam bertarung dengan jurus-jurus pencak silat yang indah. Konsep permainn yang paling cocok? Menerapkan mekanisme gameplay ala Jet Li – Rise to Honor yang sempat populer di Playstation 2 adalah pilihan yang terbaik.
Quote:
2. Pintu Terlarang
Quote:
Mendapatkan sebuah film psycho thriller yang berkualitas di Indonesia bukanlah sebuah hal yang mudah. Banyak film yang kemudian jatuh pada pusaran “ketidakjelasan cerita” yang kelam dan pada akhirnya tidak mampu memberikan sensasi ketegangan dan misterius yang tepat bagi para penikmat film. Dari kelangkaan kualitas ini, salah satu film yang terhitung berhasil melakukannya adalah Pintu Terlarang (Forbidden Door), sebuah film psycho-thriller karya sineas dalam negeri yang mampu menawarkan semua elemen dalam kapasitas yang berbobot. Misteri, darah, dan berbagai kejutan yang ada membuatnya pantas untuk diadaptasikan sebagai sebuah video game. Namun alih-alih mengambil bentuk ala survival-horror seperti saran saya di Jelangkung, Pintu Terlarang lebih pantas dirombak ke dalam gameplay yang berfokus pada penyampaian cerita yang terbangun secara rapi dan pelan. Format yang terbaik? Dengan menyulapnya sebagai sebuah game interactive drama ala Heavy Rain.
Quote:
1. The Raid
Quote:
The Raid atau Serbuan Maut harus diakui merupakan fenomena industri hiburan yang sedang naik daun dalam beberapa minggu terakhir saat artikel ini dihadirkan. Dirilis secara internasional terlebih dahulu, The Raid berhasil menawarkan sebuah konsep film action yang begitu dirindukan, tidak hanya masyarakat Indonesia, tetapi juga oleh seluruh pencinta film di seluruh dunia. Hampir semua review internasional yang beredar memberikan nilai tinggi dan acungan dua jempol untuk film yang satu ini. agan belum menontonnya? agan benar-benar harus menyempatkan diri. Dengan dukungan sisi action yang begitu luar biasa dan reaksi positif dari berbagai belahan dunia, bukanlah hal yang tidak mungkin untuk menemukan The Raid tampil sebagai sebuah video game yang lahir dari developer raksasa di masa depan. Cara terbaik untuk merepresentasika The Raid dalam video game? Saya membayangkannya seperti ini: Meramu semua elemen aksinya dalam sebuah game action spionage ala Metal Gear Solid dengan mekanisme CQC pencak silat yang cepat dan suntikan active cut-scene yang sinematik tampaknya menjadi pilihan yang baik untuk merepresentasikan maha karya yang satu ini.
Di atas adalah 10 judul film Indonesia, baik dari layar perak maupun emas, yang menurut sumber, pantas untuk dijadikan sebagai video game. Jangan ragu untuk berkomentar, memberikan saran – kritik, dan menyumbangkan ide jika menurut agan ada beberapa film Indonesia yang pantas untuk dimasukkan ke dalam list namun terlewatkan oleh sumber. Tentu saja dengan menyertakan konsep dan alasan yang logis mengapa mereka pantas untuk masuk.

Sunday, February 26, 2012

10 Film Pertama Indonesia


1. Loetoeng Kasaroeng (1926)
Loetoeng Kasaroeng (1926)
Loetoeng Kasaroeng adalah sebuah film Indonesia tahun 1926. Meskipun diproduksi dan disutradarai oleh pembuat film Belanda, film ini merupakan film pertama yang dirilis secara komersial yang melibatkan aktor Indonesia.
2. Eulis Atjih (1927)
 Eulis Atjih (1927)
Sebuah film bisu bergenre melodrama keluarga, film ini disutradarai oleh G. Kruger dan dibintangi oleh Arsad & Soekria. Film ini diputar bersama-sama dengan musik keroncong yang dilakukan oleh kelompok yang dipimpin oleh Kajoon, seorang musisi yang populer pada waktu itu. Kisah Eulis Atjih, seorang istri yang setia yang harus hidup melarat bersama anak-anaknya karena ditinggal suaminya yang meninggalkannya untuk berfoya-foya dengan wanita lain, walaupun dengan berbagai masalah, akhirnya dengan kebesaran hatinya Eulis mau menerima suaminya kembali walaupun suaminya telah jatuh miskin.
3. Lily Van Java (1928)
 Lily Van Java
Film yang diproduksi perusahaan The South Sea Film dan dibuat bulan Juni 1928. Bercerita tentang gadis yang dijodohkan orang tuanya padahal dia sudah punya pilihan sendiri. Pertama dibuat oleh Len H. Roos, seorang Amerika yang berada di Indonesia untuk menggarap film Java. Ketika dia pulang, dilanjutkan oleh Nelson Wong yang bekerja sama dengan David Wong, karyawan penting perusaahaan General Motors di Batavia yang berminat pada kesenian, membentuk Hatimoen Film. Pada akhirnya, film Lily van Java diambil alih oleh Halimoen. Menurut wartawan Leopold Gan, film ini tetap digemari selama bertahun-tahun sampai filmnya rusak. Lily van Java merupakan film Tionghoa pertama yang dibuat di Indonesia.
4. Resia Boroboedoer (1928)
Resia Boroboedoer
Film yang diproduksi oleh Nancing Film Co, yang dibintangi oleh Olive Young, merupakan film bisu yang bercerita tentang Young pei fen yang menemukan sebuah buku resia (rahasia) milik ayahnya yang menceritakan tentang sebuah bangunan candi terkenal (Borobudur). Diceritakan juga di candi tersebut terdapat sebuah harta karun yang tak ternilai, yaitu guci berisi abu sang Buddha Gautama.
5. Setangan Berloemoer Darah (1928)
Film yang disutradarai oleh Tan Boen San, setelah pencarian di beberapa sumber, sinopsis film ini belum diketahui secara pasti.
6. Njai Dasima I (1929)
Njai Dasima I (1929)
Film ini berasal dari sebuah karangan G. Francis tahun 1896 yang diambil dari kisah nyata, kisah seorang istri simpanan, Njai (nyai) Dasima yang terjadi di Tangerang dan Betawi/Batavia yang terjadi sekitar tahun 1813-1820-an. Nyai Dasima, seorang gadis yang berasal dari Kuripan, Bogor, Jawa Barat. Ia menjadi istri simpanan seorang pria berkebangsaan Inggris bernama Edward William. Oleh sebab itu, akhirnya ia pindah ke Betawi/Batavia. Karena kecantikan dan kekayaannya, Dasima menjadi terkenal. salah seorang penggemar beratnya Samiun yang begitu bersemangat memiliki Nyai Dasima membujuk Mak Buyung untuk membujuk Nyai Dasima agar mau menerima cintanya. Mak buyung berhasil membujuk Dasima walaupun Samiun sudah beristri. Hingga akhirnya Nyai Dasima disia-siakan Samiun setelah berhasil dijadikan istri muda.
7. Rampok Preanger (1929)
Ibu Ining tidak pernah menduduki bangku sekolah, tahun 1920-an adalah seorang penyanyi keroncong terkenal pada Radio Bandung (NIROM) yang sering pula menyanyi berkeliling di daerah sekitar Bandung. Kemudian ia memasuki dunia tonil sebagai pemain sekaligus sebagai penyanyi yang mengadakan pagelaran keliling di daerah Priangan Timur. Main film tahun 1928 yang berlanjut dengan 3 film berikutnya. Film-film itu seluruhnya film bisu. Ketika Halimoen Film ditutup tahun 1932, hilang pulalah Ibu Ining dari dunia film. Namun sampai pecahnya PD II, ia masih terus menyanyi dan sempat pula membuat rekaman di Singapura dan Malaya. Pada tahun 1935 ia meninggal dunia dalam usia 69 tahun karena sakit lever.
8. Si Tjonat (1929)
Cerita dalam film ini berputar pada kisah seseorang yang dijuluki si Tjonat. Nakal sejak kecil, si Tjonat (Lie A Tjip) melarikan diri ke Batavia (Jakarta) setelah membunuh temannya. Di kota ini ia menjadi jongos seorang Belanda, bukannya berterima kasih karena mendapat pekerjaan, ia juga menggerogoti harta nyai tuannya itu. Tak lama kemudian ia beralih profesi menjadi seorang perampok dan jatuh cinta kepada Lie Gouw Nio (Ku Fung May). Namun cintanya bertepuk sebelah tangan, penolakan Gouw Nio membuatnya dibawa lari oleh si Tjonat. Usaha jahat itu dicegah oleh Thio Sing Sang (Herman Sim) yang gagah perkasa.
9. Si Ronda (1930)
Si Ronda
Film ini disutradaria oleh Lie Tek Swie & A. LOEPIAS (Director of Photography), dan dibintangi oleh Bachtiar Efendy & Momo. Film ini bercerita tentang kisah seorang jagoan perkelahian yang mengandung unsur kebudayaan Cina.
10. Boenga Roos dari Tjikembang (1931)
Boenga Roos dari Tjikembang
Film bersuara pertama di Indonesia, film ini menceritakan tentang hubungan antar etnis Cina & pribumi. Dalam film ini, The Teng Chun bertindak sebagai sutradara dan kamera. Cerita ini dikarang oleh Kwee Tek Hoay dan pernah dipentaskan Union Dalia Opera pada 1927, meskipun cuma ringkasan cerita saja, yaitu tentang Indo-Tiongha. Dan film ini diberitakan oleh pengarangnya film Cina buatan Java ini adalah karya Indo-Tiongha.
Tambahan :
Darah dan Doa (1950), film pertama Indonesia yang dibuat oleh orang Indonesia
Darah dan Doa adalah sebuah film Indonesia karya Usmar Ismail yang diproduksi pada tahun 1950 dan dibintangi oleh Faridah. Film ini merupakan film Indonesia pertama yang sepenuhnya dibuat oleh warga pribumi. Film ini ialah produksi pertama Perusahaan Film Nasional Indonesia (Perfini), dan tanggal syuting pertama film ini 30 Maret 1950, yang kemudian dirayakan sebagai Hari Film Nasional. Kisah film ini berasal dari skenario penyair Sitor Situmorang, menceritakan seorang pejuang revolusi Indonesia yang jatuh cinta kepada salah seorang Belanda yang menjadi tawanannya.

Monday, January 30, 2012

film indonesia yang ditunggu tunggu tahun 2012

Tahun 2012 ini akan diwarnai beberapa film berkualitas produksi anak negeri. Ada Negeri 5 Menara yang diharapkan bisa setidaknya menyamai prestasi film Laskar Pelangi yang sukses mencetak prestasi di layar lebar. Keduanya merupakan hasil adaptasi novel yang laris manis di pasaran. Ada pula Xia Aimei yang menuturkan kisah tragis seorang imigran asal Tiongkok yang dijual di Jakarta. Sealin itu, film berkualitas internasional juga turut meramaikan tahun 2012. Simak film-film Indonesia lain yang paling ditunggu di tahun 2012 berikut ini.

1. The Raid (Serbuan Maut)

The Raid Poster 7 Film Indonesia Paling Ditunggu di Tahun 2012
Film The Raid atau Serbuan Maut bisa jadi adalah film yang paling ditunggu-tunggu dibandingkan film lainnya. Gemilang di Festival Film Toronto 2011, The Raid tak hanya akan ditayangkan di bioskop Indonesia, tapi juga bioskop-bioskop mancanegara seperti Prancis, Jepang, Jerman, Australia, Inggris dan negara lainnya. Pada 19 Januari 2012, rencananya film fenomenal ini akan tayang di bioskop nasional. Gareth Evans sukses mengarahkan Iko Uwais yang berperan apik sebagai Rama. Film penuh adegan action itu sukses menarik perhatian Sony Pictures yang menjadi distributor resminya. Produser film Ario Sagontoro mengungkapkan bahwa dalam film tersebut semua adegan perkelahian diambil tidak menggunakan teknik fight cut, tapi fight bebas agar tercipta atmosfer yang lebih hidup.

2. Modus Anomali

42TmD2 Modus anomali 320x480 7 Film Indonesia Paling Ditunggu di Tahun 2012
Sutradara berpengalaman Joko Anwar datang kembali dengan garapan terbarunya, Modus Anomali. Pemeran utama film bergenre thriller ini adalah Rio Dewanto dan Hannah Al Rasyid. Film yang akan mulai ditayangkan di bioskop-bioskop Indonesia pada April 2012 ini memaparkan tentang liburan sebuah keluarga yang berubah menjadi mimpi buruk setelah muncul seorang pembunuh misterius yang diduga akan menghabisi satu per satu anggota keluarga itu setelah mereka hilang dari pondok mereka di hutan. Naskah film yang juga ditulis oleh sang sutradara ini berhasil menyabet penghargaan Bucheon Award di pentas Network of Asian Fantastic Films (NAFF) di Korea Selatan.

3. Cahaya di Atas Cahaya

21052011144305titi 7 Film Indonesia Paling Ditunggu di Tahun 2012
Bersama Emha Ainun Najib atau biasa dipanggil Cak Nun, sutradara Viva Westi menulis naskah film yang direncanakan akan beredar di tahun 2012 ini. Belum jelas tanggal ataupun bulan perilisannya, namun film berkualitas ini sudah dimulai pengambilan gambarnya sejak pertengahan tahun kemarin. Titi Sjuman akan beradu akting dengan Tio Pakusodewo dalam Cahaya di Atas Cahaya. Titi Sjuman berperan sebagai Rayya, seorang diva pop yang gelisah setelah kisah asmaranya dengan suami orang harus tenggelam. Rayya lalu memutuskan untuk bunuh diri dalam perjalanannya untuk sebuah pemotretan di beberapa kota di Indonesia. Pengambilan gambar untuk film ini dilakukan di beberapa daerah wisata seperti Kawah Ijen dan Ambarawa. Alex Abbad, Arie Dagienkz, dan Masayu Anastasia turut berperan dalam film ini.
4. Negeri 5 Menara
Poster2 kceil Film 7 Film Indonesia Paling Ditunggu di Tahun 2012
Satu film adaptasi novel lain yang akan dirilis tahun 2012 adalah Negeri 5 Menara. Negeri 5 Menara awalnya adalah judul novel karya Anwar Fuadi yang meledak di pasaran setelah diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada 2009. Salman Aristo mengolah cerita dalam novel untuk dijadikan skenario film yang disutradarai oleh Affandi Abdul Tachman ini. Sang sutradara sengaja tidak mengambil nama-nama terkenal untuk membintangi film adapatasi ini. Ia memilih talenta-talenta lokal karena ingin mendapatkan hasil maksimal lewat kecakapan yang dimiliki oleh putra daerah. Billi Sandi dari Gowa berperan sebagai Baso, Rizki Ramdani asal Bandung menjadi Atang, Jiofani Lubis dari Medan bermain sebagai Raja, Ernest Samudera dari Surabaya sebagai Said dan Aris Adnanda Putra asal Madura berperan sebagai Dulmajid. Sebagai pemain pendukung, ada aktor dan artis senior seperti Ikang Fawzi, Lulu Tobing, David Chalik dan Doni Alamsyah.

5. Mother Keder

132385610740593 300x430 7 Film Indonesia Paling Ditunggu di Tahun 2012
Film bergenre drama komedi ini akan dirilis bersamaan dengan Xia Aimei, 12 Januari 2012. Sutradara Eko Nobel mengangkat cerita dari novel yang ditulis oleh Puteri Indonesia Fotogenik 2001, Viyanthi Silvana yang berjudul sama. Dalam film ini, aktris senior Ira Maya Sopha dan aktor veteran yang baru-baru ini menjadi sangat vokal soal urusan politik Pong Hardjatmo disandingkan dengan Puteri Indonesia 2009, Qory Sandioriva, dan model sekaligus aktris yang kerap wara-wiri di layar FTV, Jill Gladys. Mother Keder bercerita tentang kehidupan Vivi (Qory Sandioriva), seorang wanita karir yang sukses. Ia mantap menapaki dunia kerja, namun ada satu hal yang belum dapat ia rengkuh yaitu pernikahan. Konflik mengemuka ketika Dinda (Jill Gladys), adiknya, berencana untuk mendahuluinya menuju ke pelaminan. Keadaan tambah kacau karena sebelumnya Vivi terpaksa meninggalkan pekerjaannya karena suatu masalah. Sang ibu (Ira Maya Sopha) yang “ajaib” menambah kekisruhan dalam kehidupan Vivi.

6. Xia Aimei
poster xia aimei 7 Film Indonesia Paling Ditunggu di Tahun 2012

Film yang dibintangi oleh mantan VJ MTV Franda, Ferry Salim, Samuel Rizal dan Olga Lydia ini rencananya akan beredar Kamis tanggal 12 Januari 2012. Ada dua bahasa yang digunakan dalam film ini, Indonesia dan Mandarin. Digarap oleh sutradara muda berbakat Alyandra, Xia Aimei menceritakan tentang perjalanan pedih seorang gadis Tionghoa bernama Xia Aimei (Franda) yang dikirim untuk bekerja sebagai perempuan penghibur di klub malam milik Jack (Ferry Salim). Di sini, Xia Aimei memiliki nama baru Xi Xi. Di tempat ini pula masalah muncul ketika Xi Xi menyerang seorang bos mafia sampai terluka hingga ia harus melarikan diri. Film tentang human trafficking ini juga menampilkan Shareefa Danish, Samuel Rizal, dan artis pendatang baru yang dulu bergelar Briptu, Norman Kamaru.

7. Java Heat

13213202471364408458 300x422.53521126761 7 Film Indonesia Paling Ditunggu di Tahun 2012
Judul film ini menggunakan bahasa Inggris bukan untuk gaya-gayaan. Alasan paling utama adalah adanya aktor kelas Hollywood yang ikut bermain dalam film yang mengambil latar di kota Yogyakarta ini. Mickey Rourke yang pernah dinominasikan di ajang penghargaan Oscar sebagai aktor terbaik dalam The Wrestler akan beraksi bersama Tio Pakusodewo, Rio Dewanto, Uli Auiliani dan Atiqah Hasiholan. Selain Rourke, bintang internasional yang bermain dalam film garapan Connor Allyn ini adalah Kellen Lutz dan Brian Krause. Di film ini, dikisahkan tentang penculikan puteri kraton Yogyakarta yang dibarengi dengan pencurian perhiasan milik istana oleh penjahat internasional. Polisi Indonesia dibantu oleh tim profesional Amerika Serikat berusaha mengungkap kasus ini. Menurut kabar, film ini akan tayang 2012, namun kabar lain mengatakan kita baru bisa menikmati aksi Mickey Rourke di tahun 2013.


sumber:http://uniqpost.com

Saturday, January 28, 2012

film animasi INDONESIA kreeeeennn cccoooyyy....

Film Animasi Buatan Indonesia, Keren Abis!

Cuplikan film animasi besutan Lakon Animasi ini memang pantas mendapatkan dua buah acungan jempol. Pasalnya, film animasi pendek buatan anak negeri yang satu ini gak kalah bagus dari pesohornya yaitu beberapa distributor film - film animasi Hollywood seperti Paramount Picture dan FreamWorks Pictures. Film animasi yang kami bicarakan ini berjudul Pada Suatu Ketika, menceritakan tentang datangnya alien ke muka bumi Indonesia dan merubah bajaj - bajaj jadi robot, he2.. Ups, tunggu dulu.. Jangan membayangkan film ini seperti film - film made in Indonesia pada umumnya, karena film ini beda!, yang merupakan sebuah bukti bahwa sebenarnya INDONESIA BISA!









Film Animasi Buatan Indonesia, Keren Abis!

Friday, January 27, 2012

10 Film Indonesia Terbaik Sepanjang Masa




1.Laskar Pelangi (2008)

Laskar Pelangi (2008) adalah sebuah film garapan sutradara Riri Riza yang dirilis pada 25 September 2008 dan merupakan adaptasi dari novel karangan Andrea Hirata, pada saat libur Lebaran. Skenarionya ditulis oleh Salman Aristo yang juga menulis naskah film Ayat-Ayat Cinta dibantu oleh Riri Riza dan Mira Lesmana. Hingga Maret 2009, Laskar Pelangi telah ditonton oleh 4,6 juta orang. Themesongnya(by Nidji) pun sampai sekarang masih menjadi Lagu yang laris di Indonesia.

2. Tjoet Nja’ Dhien (1986)

Sebuah masterpiece! Tak ada yang menyangkal Tjoet Nja’ Dhien (1986) dibilang begitu. Film debut penyutradaraan Eros Djarot itu butuh waktu dua tahun buat menyelesaikannya. Pemeran utamanya, Christine Hakim jadi legenda hidup gara-gara film ini. Berkat Tjoet Nja’ Dhien, setiap aktris muda pasti menyebutnya sebagai panutan atau bintang idola. Tak ada yang menyangkal pula, sebagai Tjoet Nja’ Dhien, Christine berakting sempurna. Tak cuma Christine saja yang serba bagus di film ini. Filmnya sendiri, sebagai sebuah kesatuan karya sinema, nyaris tanpa cacat (diganjar 8 Piala Citra di FFI 1988). Tjoet Nja Dhien tak berisi uraian biografis kehidupan pahlawan dari Tanah Rencong itu. Melainkan juga berisi drama, pengkhianatan, dan kebesaran jiwa. Tak aneh rasanya kalau Tjoet Nja’ Dhien merupakan puncak pencapaian dunia perfilman kita yang belum terlewati hingga kini.

3. Naga Bonar (1986)

Lewat Naga Bonar, Asrul Sani lagi-lagi membuktikan bakat besarnya sebagai salah satu penulis cerita terbaik yang pernah dipunyai negeri ini. Asrul piawai menghadirkan dialog yang memicu tawa, yang begitu dipikir lebih dalam ternyata mengandung makna luhur. Naga Bonar hadir buat berkelakar. Namun, ia tak berkelakar sembarangan. Yang jadi bahan kelakar justru pejuang negeri saat perang kemerdekaan berlangsung. Naga Bonar menyindir pemujaan pada para pahlawan. Film ini berpesan, tak semua pejuang di masa lampau itu punya niat suci membela negeri. Ada yang cuma bisa bicara saja. Nah, Jenderal Naga Bonar (diperankan dengan gemilang oleh Deddy Mizwar) pun aslinya pencopet. Tapi dari sosok inilah kemurnian perjuangan lahir. Sebagai karya sinema, Naga Bonar tampil lengkap, berisi sekaligus menghibur; tergarap dengan baik, tanpa cacat cela. Pantas rasanya bila film ini memborong 7 Piala Citra di FI 1987.

4. Ada Apa dengan Cinta? (2001)

Ada Apa dengan Cinta? (AAdC?) jadi salah satu film penting negeri ini. Melahirkan tren yang sudah lama hilang dari jagad sinema kita: film bertema remaja. Selepas AAdC? lahir film-film bertema sejenis. Tren itu juga merambah ke teve. Sejak AAdC?, datang berduyun-duyun sinetron bertema remaja. Rasanya, sejak Gita Cinta dari SMA (1979) dulu baru ada lagi film Indonesia yang begitu digandrungi remaja. AAdC? tak kurang ditonton sekitar 2,7 juta orang di bioskop. Rudi Soedjarwo, sang sutradara, begitu lancar bertutur (Rudi dapat Piala Citra di FFI 2004).

5. Kejarlah Daku Kau Kutangkap (1985)

Film baik tak lekang dimakan zaman. Bertahun-tahun selewat peredarannya, film itu masih asyik buat ditonton. Nah, Kejarlah Daku Kau Kutangkap tipe film seperti itu. Penonton tak sekadar diajak tergelak. Semua ini berawal dari skenario cerdas yang dibuat Asrul Sani, pengarahan kuat dari Chaerul Umam, sang sutradara, yang digenapi akting prima dari Deddy Mizwar, Lydia Kandou, Ully Artha, dan Ikranegara. Hasilnya, film ini layak ditasbihkan sebagai situasi komedi terbaik yang pernah dihasilkan sineas kita. Asrul berhasil membuat kelakar jenius tentang hubungan pria dan wanita. Dalam film ada hubungan Ramadhan (Deddy) dan Mona (Lydia) yang berkisar antara cinta dan benci, cinta dan gengsi, hingga cinta akhirnya mengalahkan segalanya.

6. Badai Pasti Berlalu (1977)

Badai Pasti Berlalu jadi film Teguh Karya yang paling laris ditonton. Tak kurang, saat beredar dulu, film ini masuk urutan kedua film terlaris 1978 (ditonton 212.551 orang). Padahal buat Teguh sendiri, ia terpaksa membuat film itu. “... ingin nafas, dan balas budi dari film-film terdahulu yang kurang laku. Selain saya ingin memvisualkan sebuah novel ke dalam bahasa visual,” ujarnya seperti dimuat Pikiran Rakyat pada 1978. Badai Pasti Berlalu memang diangkat dari novel pop. Hasilnya, ya film pop. Sebelum diangkat jadi film, kisahnya memang sudah populer duluan saat dimuat bersambung oleh Kompas dan kemudian dinovelkan. Hingga saat difilmkan, orang tentu ingin menontonnya. Apalagi yang membuatnya Teguh Karya, sutradara yang piawai membuat film-film bermutu. Selain itu, yang membuat Badai Pasti Berlalu dikenang juga lantaran tata musik berikut lagu temanya yang digubah Eros Djarot. Lagu temanya abadi hingga kini.

7.Arisan (2003)

Untuk ukuran tahun 2000-an sekarang, Arisan! paling tepat ditunjuk sebagai film yang menelanjangi kehidupan di zamannya. Tanpa tedeng aling-aling, Arisan! menampilkan problematika hidup kaum borjuis Jakarta. Ada perselingkuhan, dilema cinta sesama jenis, hingga upaya mempertahankan nilai-nilai keluarga. Semuanya campur-aduk dalam balutan komedi segar. Kepiawaian sang sutradara, Nia DiNata, menggarap realitas ini mengingatkan kita pada kemampuan senada yang dimiliki sutradara besar lain macam Sjuman Djaya atau Asrul Sani. Nia tak cuma menghibur, ia juga mengajak penonton untuk jujur pada diri sendiri. Pesannya jelas, kehidupan kaum jetset Jakarta dipenuhi topeng alias kemunafikan. Arisan! juga jadi darah segar saat perfilman kita yang bangkit lagi dipenuhi film remaja dan horor. Di luar itu, Arisan! yang jadi film terbaik FFI 2004 ini juga melahirkan bintang baru. Tora Sudiro (pemeran Sakti yang gay) namanya.

8. Gie (2005)

Soe Hok Gie, aktivis mahasiswa 1960-an, telah jadi sosok bak pahlawan. Pandangan dan kisah hidupnya memikat Mira Lesmana dan Riri Riza, pemilik Miles Productions. Keduanya lantas menggagas buat mengangkat kisah hidup Gie ke layar lebar. Hasilnya jadilah Gie. Akor ganteng Nicholas Saputra didapuk memerankan Soe Hok Gie. Tentu tampang Nico yang ganteng tak mirip Gie asli, akan tetapi ia bisa berakting (buktinya Nico diganjar FFI 2005 buat aktor terbaik). Sebuah gagasan yang mengingatkan kita pada mahakarya Usmar Ismail, Lewat Djam Malam (1954).

9.Si Doel Anak Betawi (1973)

Saat karya sastra diangkat ke layar lebar—di antaranya Salah Asuhan (1972)—Sjuman Djaya memilih mengadaptasi novel Aman Datoek Madjoindo berjudul Si Doel Anak Betawi. Ini cerita seputar suka-duka kehidupan Doel, seorang anak Betawi asli. Doel diperani Rano Karno saat masih kecil. Suka duka kehidupan Doel yang mencari figur ayah (setelah ditinggal mati ayahnya), melawan kerasnya hidup (ia harus membantu ibunya berjualan kue buat menyambung hidup), sampai menghadapi tekanan anak-anak nakal terekam baik.

10. Petualangan Sherina (1999)

Sebuah tontonan yang mengingatkan kita pada Home Alone (). Kala anak kecil mempecundangi orang dewasa. Petualangan Sherina jadi film besar lantaran dianggap sebagai penanda kebangkitan perfilman nasional. Sebelum Petualangan Sherina, bioskop tanah air melulu diisi film esek-esek. Baru setelah film ini datang, orangtua mengantre mengajak anaknya ke bioskop. Petualangan Sherina bertahan di bioskop selama berminggu-minggu. Film karya Riri Riza ini mampu mengundang 1,6 juta penonton ke bioskop. Jika Petualangan Sherina bukan film menarik, penontonnya mungkin tak sebanyak itu. Pada kenyataannya, sebagai karya sinema Petualangan Sherina bukanlah film buruk. Riri mampu bercerita dengan lancar diselingi lagu-lagu Sherina -- ini film musikal.